post
Print Friendly, PDF & Email

Tahun ini, Pontianak berulang tahun ke-243. Berbagai agenda sudah, sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah kota untuk memeriahkan hari jadi tersebut. Sebagai sebuah kota, Pontianak boleh dikatakan cukup tua jika dibandingkan dengan Kuala Lumpur yang baru dibuka pada tahun 1857 (157 tahun yang lalu). Namun, Kota Pontianak yang semula merupakan wilayah kesultanan ini lebih muda dari Kesultanan Sintang yang sudah ada setidaknya sejak awal abad ke-17. Pontianak masih sangat muda jika dibandingkan dengan Paris, ibukota Perancis yang sudah menjadi pemukiman pada masa mesolithic yang berada di antara paleolithic dan neolithic atau 10.000 tahun Sebelum Masehi.

Banyak kemajuan yang dicapai Kota Pontianak dalam kurun waktu 1771-2014. Melalui tulisan ini, penulis hendak berbagi dengan mengenang masa lalu, kira-kira 119 tahun yang lalu atau pada tahun 1895 (hampir separuh waktu dari umur sekarang).Tulisan ini berdasarkan syair yang ditulis oleh Sultan Matan pada 27 Muharram 1313 H atau 7 Juli 1895 yang menceritakan pengalaman, fikiran, dan perasaannya selama sembilan minggu di Ponianak. Syair ini sudah diterbitkan dan dianalisis oleh Arenawati (1989). Tulisan ini dihadirkan untuk bercermin pada masa lalu dalam rangka menatap masa depan.

Kota Pontianak yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman hampir dua setengah abad yang lalu telah mengalami berbagai keadaan. Mulai dari sebuah perkampungan kecil sampai sekarang memproklamirkan diri sebagai kota “Berwawasan lingkungan terdepan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelayanan publik”.

Pada tahun 1895 atau 124 tahun sejak didirikan kota ini sudah berubah menjadi kota yang relatif maju. Sultan Matan yang mengunjungi Pontianak pada waktu itu memberikan gambaran mengenai kota ini dalam bentuk syair.

Sebagian Syair Sultan Matan itu menggambarkan aspek ekonomi dan sosial budaya Kota Pontianak. Pada waktu itu Pontianak dilukiskan memiliki pertahanan yang kuat sejalan dengan kemajuan ekonominya, bentengnya kuat, rumah teratur dihiasi kebun buah, jalan yang rata dan bersih, di atas terusan (parit) ada jembatan yang kokoh. Peraturan perundang-undangan ditegakkan, kriminalitas dapat dikendalikan.

Ayuhai anakanda menteri budiman
Pangeran Syarif Abdul Rahman
Dengar ayahandanya empunya firman
Negeri Pontianak terlalu aman (bait 143)

 Jangan dikata tanah seribu
Bertambah kuat benteng dan kubu
Meskipun musuh datang menyerbu
Tidaklah susah di dalam kalbu (bait 157)

Segala rumah tuan Olanda
Dihiasi dengan kebun berpinda
Manggis rambutan semuanya ada
Tak putus buah tua dan muda (bait 160)

 Setengahnya lorong bertembok batu
Boleh menahan kasut sepatu
Disapu kartel setiap waktu
Bersih tak kotor sampah suatu (bait 165)

 Mobilitas di sektor ekonomi masyarakat dilukiskan sangat dinamis. Pasar, sungai, dan tempat hiburan sesak dikunjungi orang. Berbagai komoditas dijual di pasar. Bahkan Pontianak kala itu boleh disandingkan dengan Singapura.

Di dalam sungai tiada terbilang
Kapal sekunyar silang-menyilang
Ada yang datang ada yang pulang
Ada berlabuh ada berkalang (bait 145)

Setiap rumah ada jambang
Berbagai rupa bunga dan kembang
Di sana suka burung dan kumbang
Menentang kuntum fikiran bimbang (bait 161)

Di kampung Cina jangan disebut
Di dalam pasar sesak berkabut
Gemuruh bunyi seperti rebut
Jual dan beli rebut merebut (bait 167)

Hanya yang tidak dijual orang
Samsu-wal-kamar bintang yang terang
Lainnya ada masa sekarang
Suatu tidak ada yang kurang (bait 177)

Ayahanda pandang serta dikira
Samakah dengan di Singapura
Apa hendak carilah segera
Adalah dalam pekan pesara (bait 169)

Kota ini juga juga diperintah oleh orang-orang yang baik. Salah satu tokoh yang disebut adalah Pangeran Putera, adik sultan yang menjadi kepala menteri digambarkan seperti berikut:

Pangeran Putera menteri yang po’ta
Ayahanda sudah melihat nyata
Rupa perangai alim pendeta
Bijak laksana pula beserta (bait 376)

Peranan ulama dalam membangun kota ini juga tidak luput dari perhatian Sultan Matan. Kesan bahwa kota ini sejak semula melibatkan ulama dalam pengaturannya secara jelas dilukiskan ketika menggambarkan penghulu kesultanan, beliau menulis:

Rupanya salih dan warak
Tauhid makrifat tidak berkerak
Terlalu betul mengikut syarak
Barang yang munkar semua diorak (bait 374)

Patutlah jadi bintang pelita
Menerangi negeri duli mahkota
Sangat diharap di dalam cinta
Limpahnya sampai kepada kita (bai 375)

Walaupun begitu, Sultan Matan juga mengeluhkan adanya prostitusi yang terutama untuk orang-orang asing:

Yaitu bangsa ahli…
Jepang dan Makao berjual diri
Dibuatkan rumah tempat sendiri
Khabarnya laku sehari-hari (bait 173)

Dinamika Pontianak tentu sekarang tentu jauh lebih dinamis dari 119 tahun yang lalu. Banyak kemajuan yang menonjol dalam sepuluh tahun terakhir. Sejalan dengan kemajuan itu tumbuh pula kelas menengah yang mampu membeli rumah dan kendaraan. Akibatnya banyak sekali kebun buah-buahan berubah menjadi perumahan. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang mengakibatkan kemacetan yang tidak bisa dihindari. Walaupun pemerintah kota sudah melakukan upaya nyata seperti melebarkan dan membuat jalan alternatif. Keadaan ini diperburuk oleh rendahnya kesadaran pemakai jalan. Menerobos lampu lalu lintas, mengambil hak pejalan kaki, menyalip seenaknya, dan perilaku buruk lainnya menjadi pemandangan sehari-hari. Di samping itu masih ada sebagian warga yang memiliki perilaku yang kurang pantas seperti membuat bangunan di atas parit, membuang sampah seenaknya, merusak fasilitas umum, dan perilaku negatif lainnya.

Bandingkan dengan Singapura. Sekarang kota yang tidak menghasilkan apa-apa dari alamnya itu telah berubah menjadi salah satu negara makmur di kawasan Asia. Orang-orang kaya, termasuk dari Indonesia, sangat banyak di sini. Beberapa tahun yang lalu ketika penulis berkunjung ke sana nampak sekali ketertiban dan kebersihan menjadi budaya mereka.

Meskipun mereka hidup dari impor; makanan, pakaian dan segala kebutuhan lainnya. Namun mereka juga aman, hukum tegak, masyarakat disiplin, dan etos kerja yang tinggi. Walaupun demikian Pontianak dari sisi menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan, mungkin dari segi tertentu Pontianak secara relatif lebih baik. Orang Singapura cenderung mengubah kehidupan menjadi lebih mekanistik. Ada cerita soal ini. Seorang warga Pontianak mengirim anaknya ke Singapura sejak selesai Sekolah Dasar. Anak itu tinggal di apartemen bersama saudaranya. Suatu ketika orang tuanya datang menjenguk. Karena rindu, orang tuanya ingin mencium dan memeluk sang anak. Apa yang terjadi? Anak tersebut marah karena dianggap mengganggu privacy-nya. Cerita lain seorang perempuan, anak tunggal dari keluarga berada di Pontianak, diterima bekerja di sebuah perusahaan bonafide di Singapura. Ia menikah dengan laki-laki yang juga bekerja di sana. Pasangan ini lama tidak mau memiliki keturunan karena dianggap akan mengganggu produktivitas, sebagaimana anggapan kebanyakan orang Singapura. Karena aggapan kebanyakan orang Singapura seperti itu, maka pemerintah Negeri Singa tersebut memberikan insentif kepada pasangan yang mau punya anak lebih dari satu.

Bahwa kemajuan adalah cita-cita semua warga merupakan suatu yang pasti. Namun pada saat yang bersamaan tentu kita tidak ingin pembangunan kota Pontianak menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan nilai luhur warisan nenek moyang lain seperti gotong-royong, kebersamaan, dan lain-lain. Dalam menyambut hari ulang tahun yang ke-243 ini sebagai warga mari kita bahu membahu untuk membangun Kota Pontianak ini menjadi kota yang nyaman untuk tempat hidup dan mencari penghidupan serta menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan.

Apalah guna hidup termasa
Memegang negeri rakyat dan desa
Jikalau tidak senang sentosa
Baik mengembara senantiasa (bait 298)

Selamat ulang tahun, semoga kota ini tumbuh dan berkembang ke arah yang semakin baik.

Dimuat di Pontianak Post 25 Oktober 2014