post
Print Friendly, PDF & Email

Latar Belakang

Perubahan bentuk Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak yang menjadi harapan masyarakat Kalimantan Barat sudah terwujud. Perubahan bentuk itu secara hukum ditandai dengan dikeluarkanya Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2013. Perubahan tersebut tentu disambut gembira oleh masyarakat Kalimantan Barat, terlebih bagi keluarga besar IAIN Pontianak. Kegembiraan menyambut alih status tentu saja tidak boleh berhenti pada sekedar kebanggaan memiliki nama yang besar sejalan dengan semakin luasnya kewenangan itu. Banyak pekerjaan besar baik itu menyangkut kewajiban-kewajiban formal maupun pekerjaan yang berada di wilayah kreativitas dan inovasi.

Menurut hemat penulis, sebuah perguruan tinggi keagamaan khususnya  yang bercirikan keislaman di Indonesia setidaknya memiliki misi mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional berbasis nilai keilmuan, keislaman dan keindonesiaan. Nilai keilmuan sudah sewajarnya menjadi basis pengembangan sebiuah perguruan tinggi. Dari sini pola pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarkat harus bertumpu. Nilai keislaman menjadi ciri pembeda antara perguruan tinggi keagamaan (Islam) dengan perguruan tinggi non-keagamaan. Perguruan tinggi Islam di Indonesia selain menjadi tempat mempelajari dan mentransformasikan nilai-nilai Islam universal tentu harus membumikan Islam dengan nuansa keindonesaan.

IAIN Pontianak berkeinginan untuk membawa misi tersebut menjadi ruh setiap langkah dan kiprah lembaga ini. Untuk sampai ke sana, IAIN bersama-sama seluruh kekuatannya dan dukungan dari berbagai pihak menyusun program dan langkah-langkah untuk mencapainya. IAIN Pontianak telah merumuskan profil lulusan yang diharapkan yakni:

  1. Menguasai ilmu-ilmu warisan keislaman klasik dan kontemporer
  2. Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan sebagai seorang Muslim
  3. Kemampuan beradaptasi dan menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilannya dalam konteks kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Program Kerja

Penulis yang mendapat amanah untuk mengawal arah institusi ini di bidang akademik akan bekerja dengan arah kebijakan prioritas. Secara umum kebijakan prioritas adalah penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat berbasis akreditasi dengan rincian  sebagai berikut:

1. Bidang Dikjar

  • Standarisasi penyelenggaraan perkuliahan
  • Standarisasi penyelenggaraan praktikum
  • Penataan kurikulum
  • Standarisasi pelayanan akademik berbasis teknologi informasi (IT)
  • Standarisasi lulusan (terutama berkaitan dengan kompetensi ke-IAIN-an)
  • Modernisasi perpustakaan

2. Bidang Penelitian

  • Standarisasi penyelenggaraan penelitian mahasiswa
  • Perluasan akses penelitian bagi setiap dosen
  • Perluasan akses penerbitan karya dosen dan mahasiswa

3. Bidang Pengabdian

  • Perluasan akses pengabdian bagi setiap dosen
  • Diversifikasi model pengabdian
  • Perintisan Kopertais

Arah kebijakan tersebut diturunkan dalam program-program kerja prioritas sebagai berikut:

1.  Bidang Dikjar

a. Standarisasi penyelenggaraan perkuliahan minimal standar BAN-PT
b. Standarisasi penyelenggaraan praktikum
1) Diversifikasi praktikum
2) Standarisasi laboratorium

c. Penataan kurikulum
1) Standar isi kurikulum mata kuliah ke-IAIN-an
2) Pembentukan konsorsium bidang ilmu/mata kuliah

d. Standarisasi pelayanan akademik
1) Pelayanan akademik (seperti registrasi) berbasis IT
2) Penegakan peraturan akademik
3) Penyusunan buku pedoman akademik

e. Standarisasi lulusan terutama berkaitan dengan kompetensi ke-IAIN-an
1) Penyusunan standar kemampuan bahasa asing
2) Penyusunan standar kompetensi baca tulis al-Qur’an (misalnya melalui program sertifikasi, mentoring, dsb)

f. Modernisasi perpustakaan
1) Penambahan koleksi/diversifikasi koleksi
2) Peningkatan mutu pelayanan berbasis IT
3) Penyediaan ruang multi media
4) Penyediaan sumber pustaka digital (seperti kitab tafsir dan hadits)

g. Peningkatan Kualitas dosen dengan studi lanjut (S3)

h. Mendorong percepatan peningkatan jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar

2. Bidang Penelitian

a. Standarisasi penyelenggaraan penelitian mahasiswa
1) Penyusunan standar penulisan skripsi (proposal sampai pencetakan skripsi)
2) Pelibatan mahasiswa dalam penelitian dosen

b. Perluasan akses penelitian bagi setiap dosen
1) Peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian dosen  berbasis prodi (misalnya satu dosen satu penelitian)
2) Peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian dosen  berbasis bidang ilmu
3) Peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian dosen  berbasis pusat studi

c. Perluasan akses penerbitan karya dosen dan mahasiswa
1) Penerbitan hasil penelitian (termasuk insentif bagi penulis)
2) Fasilitasi penerbitan jurnal di IAIN dan di luar IAIN
3) Memfasilitasi terakreditasinya jurnal

3. Bidang Pengabdian pada Masyarakat
a. Perluasan akses pengabdian bagi setiap dosen
Pelibatan semua dosen dalam kegiatan pengabdian

b. Diversifikasi model pengabdian
1) Pengabdian berbasis prodi
2) Pengabdian berbasis kompetensi dosen
3) Mixing  program praktek pengalaman lapangan (PPL) dan pengabdian dosen

c. Perintisan Kopertais
1) Penyusunan proposal untuk menjadi kopertais
2) Pengajuan proposal untuk menjadi kopertais

Selain itu, dalam rangka pengembangan lembaga, IAIN memastikan mengawal izin seluruh jurusan/program studi dan akreditasi. Untuk jurusan-jurusan-jurusan yang potensial disorong untuk segera meningkatkan akreditasinya. Dalam waktu tidak lebih dari 15 tahun yang akan datang IAIN juga sudah harus sudah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Untuk sampai ke sana maka pengembangan jurusan/prodi harus didesain untuk itu. Oleh karenanya, pembukaan jurusan/prodi baru sudah diarahkan untuk usaha tersebut. Misalnya sesuai dengan kewenangan IAIN yang dapat membuka prodi dari beberapa rumpun ilmu, maka sudah saatnya untuk merintis prodi-prodi umum dan eksak yang merupakan syarat untuk perubahan bentuk IAIN menjadi UIN. Tentu saja dengan harus tetap memperkuat ­core business IAIN dalam mengelola prodi-prodi agama.

Program Penguatan

Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan orang tua mahasiswa, pengguna alumni IAIN, dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian kepada lembaga ini—selain  penulis mendengar apresiasi terhadap berbagai prestasi yang sudah dicapai juga ada  sejumlah kritik. Saya tidak akan mengutarakan apresiasi pihak-pihak tersebut. Pada kesempatan ini saya ingin merespon kritikan mereka. Di antara kritikan yang agak sering terdengar adalah, ada-untuk tidak mengatakan banyak—alumni IAIN (dulunya STAIN) yang kurang berkompeten dalam pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai seorang Muslim. Kritik ini sesungguhnya tidaklah semata-mata hanya untuk IAIN. Sebagian masalahnya adalah justru warisan lembaga pendidikan sebelumnya. Namun, sangatlah tidak arif jika kita melihat ke belakang. Bagi saya kritikan ini adalah cerminan bagi IAIN agar berbenah.

Harus diakui bahwa sebagian input IAIN tidaklah semuanya baik baik. Latar belakang pendidikan mereka yang masuk ke sini sangat beragam. Begitu juga halnya dengan pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai seorang Muslim. Mereka yang alumni pesantren dan madrasah umumnya sudah memilki dasar pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Namun, mereka yang tidak pernah sekolah agama dan di rumahnya juga tidak atau kurang diberikan bekal keagamaannya dapat dipastikan sangat memerlukan perhatian khusus. IAIN menyadari input yang semacam itu.

Sejatinya lembaga yang baik adalah lembaga yang dapat memproses input yang kurang baik menjadi out put yang  berkualitas. Oleh karena itu, harus ada rencana dan program untuk mengatasinya. Maka mulai tahun akademik 2014/2015, diadakan program penguatan.  Program penguatan yang dimaksud adalah standarisasi kemampuan baca tulis al-Quran. Pelaksanaan program itu diserahkan kepada masing-masing fakultas. Untuk mendukung program tersebut diharapkan semua dosen dapat mendukung dengan sebelum memulai materi perkuliahan jam pertama dengan mengajak mahasiswa untuk membaca al-Quran selama kurang lebih 20 menit.  Semua mahasiswa diwajibkan membawa al-Quran.

Penutup

Semua rencana dan program kerja yang banyak di atas hanya mungkin terwujud jika seluruh warga IAIN, berfikir dan bekerja untuk itu. Semua sumber daya dan kegiatan harus dirancang untuk mewujudkan harapan dan cita-cita tersebut. Jika tidak semuanya hanya tinggal cita-cita. Namun demikian, sumber daya yang terbatas maka program kerja di atas akan dilaksanakan secara bertahap.