post

Sebagian besar umat Islam memimpikan untuk dapat memenuhi panggilan Allah menunaikan haji. Setiap tahun berjuta-juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkesempatan untuk mengunjungi tanah suci. Untuk dapat sampai kesana berbagai upaya dilakukan manusia. Ada yang harus menjual hartanya, menabung bertahun-tahun. Ada juga yang pergi ke sana karena hadiah atau menjadi petugas. Tidak semua orang bisa kesana, walaupun sangat menginginkannya. Ada berbagai sebab sehingga orang yang ingin tidak sampai ke sana. Mungkin karena tidak memiliki ongkos. Mungkin juga karena kesehatan yang tidak mengizinkan. Atau bahkan karena masa tunggu yang lama, yang bersangkutan sudah terlebih dahulu meninggal dunia.

Sebentar lagi musim haji. Calon jamaah haji dari Indonesia, sesuai dengan tradisi biasanya mendekati masa keberangkatan melakukan berbagai hal. Di antaranya adalah selamatan walimatussafar dengan mengundang tetangga, kerabat, dan kenalan. Tujuannya tidak lain calon haji berpamitan, mohon maaf, dan minta keridaan atas semua hal selama pergaulan. Di samping itu calon haji mohon didoakan supaya lancar perjalanan pergi-pulang dan mendapatkan haji mabrur. Hanya Allah yang mengetahui hakikat haji yang mabrur. Namun, menurut al-Quran surah al-Baqarah ayat 200 dan 201 ada dua motivasi manusia menunaikan ibadah haji:

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Sesuai dengan doa yang terekam dalam dua ayat di atas nyata bahwa mereka yang pergi haji dapat dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pertama mengunjungi tanah suci tujuannya semata-mata mendapatkan kebaikan dunia. Apa kebaikan dunia yang didapat dari haji? Jika kita lihat kenyataan dalam penyelenggaraan haji, kebaikan dunia yang paling nyata adalah materi. Bisnis yang berkaitan dengan haji sungguh menjanjikan. Menjadikan haji semata-mata sebagai komoditas dapat mengantarkan seseorang menjadi kaya raya. Konon katanya pedagang yang hanya bekerja selama musim haji hasilnya bisa mencukupi biaya hidup untuk setahun. Dengan demikian kemuliaan dunia akan diperoleh. Kemuliaan dunia lainnya adalah titel haji. Dalam tradisi masyarakat tertentu orang bergelar haji akan sangat dihormati bahkan mendapatkan semacam privilege tertentu.

Sedangkan kelompok kedua mengingin kebaikan dunia sekaligus juga kebaikan di akhirat. Bagi kelompok ini yang dicarinya adalah haji yang mabrur. Di atas sudah dikemukakan bahwa hakikat hanya mabrur hanya diketahui oleh Allah swt. Namun, mungkin salah satu tanda kemabruran haji seseorang dapat diambil dari hikmah cerita seorang ulama besar yang bernama Abdullah ibnu Mubarak yang diambil dai karya Fariduddin Attar berikut ini.

Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. “Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya. “600.000,” jawab malaikat lainnya.“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak satupun”. Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

 “Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Muwaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni.”

Ketika aku mendengar hal ini, aku terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar. “ Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah namamu?”

Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar, aku memohon agar ia bercerita kepadaku.

Dia mengatakan: “Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menangis. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya. “Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku. “Inilah perjalanan hajiku.”

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan Penguasa kerajaan surga (Allah) adalah benar dalam keputusanNya.”

Cerita di atas tidaklah bermakna seseorang boleh meninggalkan syariat haji lalu hanya memahami makna batinnya. Cerita di atas harus dilihat konteksnya. Bahwa dengan hanya pergi ke Mekah belum tentu menyebabkan seseorang hajinya mabrur. Cerita dia atas menginspirasikan bahwa tanda mabrur dan tidaknya justru terlihat sepulang dari haji. Insya Allah haji yang mabrur itu akan mengantarkan pelakunya menjadi lebih baik sepulang haji; semakin jujur, semakin santun, semakin pemurah, dan sifat-sifat baik lainnya meningkat. Wajar jika ia mendapat kemuliaan dunia dan akhirat. Sebaliknya jika sekembalinya dari tanah suci sifat buruknya masih sama atau malah semakin parah. Gelar hajinya membuat seseorang menjadi angkuh, semakin pelit terhadap sesama, semakin rakus dengan harta dan kekuasaan, dan sifat-sifat buruk lainnya semakin meningkat, boleh jadi pertanda hajinya tidak mabrur. Wallahu a’lam bishshawab.

Kita doakan semoga jamaah haji kita lancar perjalanannya dan mendapatkan haji yang mabrur.

Pontianak Post Jumat, 12 September 2014.