post
Print Friendly, PDF & Email

Abstract:

Keberagamaan adalah proses sosial budaya yang terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Dakwah yang disesuaikan dengan ragam kehidupan keagamaan sebagai proses sosial budaya itulah yang disebut dakwah kultural. Dakwah yang semacam inilah yang memungkinkan agama Islam diterima secara spektakuler oleh masyarakat pedalaman Kalimantan Barat.

Pendahuluan

Paham, penghayatan dan praktek ajaran agama yang dilakukan oleh seseorang atau masyarakat, tampak beragam. Lingkungan sosial, tempat tinggal, tingkat ekonomi dan pendidikan, serta pekerjaan merupakan faktor penting memunculkan keragaman pola kehidupan keagamaan seseorang atau masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa keragaman adalah proses sosial dan budaya yang terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Dakwah sesuai ragam kehidupan keagamaan sebagai proses sosial budaya itulah yang disebut dakwah kultural. Perubahan dari dakwah ini dilakukan secara bertahap sesuai kondisi sosial-budaya masing-masing orang dan masyarakat. Hal ini didasari pandangan bahwa ke-kaffah-an Islamnya seseorang atau masyarakat itu mudah, menyenangkan dan menggembirakan yang bisa dilakukan setiap orang selama masa hidupnya. Keberagamaan sebagai proses sosial budaya inilah yang disebut sebagai Islam kultural (Abdul Munir Mulkhan, 2002:1).

Larangan dan ancaman berdasarkan ketentuan akidah, akhlak, ibadah-fikih guna mengubah perilaku keagamaan seseorang dan masyarakat disebut sebagai dakwah struktural. Perilaku keagamaan seseorang yang belum sesuai ketentuan baku itu disebut belum mukmin dan muslim. Dakwah struktural cenderung lebih bersifat politis melalui pengembangan hukum dan perundang-undangan.

Dakwah kultural memandang label sinkretik, senganan, Islam Burung, tradisionalis, modernis dan semacamnya sebagai tahap-tahap keberagamaan seseorang atau masyarakat. Keberagamaan ini merupakan proses sosial budaya yang akan berubah searah perubahan sosial, ekonomi dan budaya seseorang atau masyarakat. Islam disajikan dalam beragam menyesuaikan struktur sosial dan ekonomi warga masyarakatnya. Menjadi muslim itu mudah (taisyir) dan menggembirakan (tabsyir), bisa dilakukan semua orang sesuai struktur sosial-ekonomi masing-masing.

Pengalaman Islamisasi Di Pedalaman Kalimantan

Jika kita membagi praktek Islam dua model, yaitu: syariah dan tasawuf, model pertama lebih mudah diterima pedagang, pegawai dan kelas sosial lebih tinggi, dan model kedua lebih mudah diterima oleh petani,buruh dan yang mengalami transisi sosial budaya, atau masyarakat industri yang mengalami rasionalisasi besar-besaran. Praktek Islam model pertama dikembangkan melalui dakwah rasionalisasi, dan yang kedua melalui spiritualisasi atau sufistisasi.

Proses Islamisasi di pedalaman Kalimataan Barat-khususnya kawasan Embau yang menjadi wilayah penelitian penulis-nampaknya menggunakan model kedua. Dalam makalah ini penulis memaparkan proses Islamisasi dengan memanfaatkan magi (magic).

Keberhasilan para penganut Islam sufistik dalam Islamisasi di pedalaman Kalimatan Barat antara lain disebabkan karena Islam corak ini dalam beberapa segi tertentu ‘cocok’ dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi asketisme Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal.

Islam diklaim oleh penganutnya sebagai agama yang cocok untuk segala tempat dan masa. Dengan kata lain Islam adalah agama universal. Klaim ini antara lain didasarkan atas pandangan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan nature atau fitrah kemanusiaan. Implikasi selanjutnya dari pandangan ini adalah bahwa segala produk kemanusiaan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dengan sendiriannya bersifat Islami.

Umat Islam percaya bahwa ajaran Islam bersifat universal. Keuniversalan Islam menyakut ajaran-ajaran dasar dan produk yang berlaku disemua tempat dan masa. Univesalisme Islam terutama menyangkut ajaran dan nilai-nilai dasar yang diyakini berasal dari dari wahyu Tuhan yang tidak berubah dan tidak boleh diubah. Karena hanya menyangkut ajaran dan nilai-nilai dasar maka tidaklah semua persoalan kemanusiaan sudah disediakan jawabannya secara teknis oleh Islam.

Hal tersebut meniscayakan ajaran Islam yang berasal dari wahyu tersebut bersentuhan dengan dinamika historis masyarakat mau tidak mau melibatkan kreativitas pemahaman manusia dan budaya dimana Islam hadir untuk membumikannya. Dengan demikian akulturasi timbal balik antara Islam dan budaya lokal menjadi menjadi suatu keniscayaan.

Kenyataan ini diperkuat dengan watak agama Islam yang hadir bukan untuk suatu kelompok atau golongan tertentu tetapi untuk seluruh manusia. Dengan demikian Islam yang pertama kali turun di Arab tidaklah hanya bisa diartikulasikan dalam konteks budaya masyarakat Arab. Keuniversalan mengakomodasi keragaman budaya manusia yang tersebar di segala penjuru dunia. Oleh karena itu kebudayaan lokal tidak mungkin dan tidak harus dihilangkan karena mereka menganut Islam. Inilah makna ungkapan al-Islam salih fi kulli makan wa fi kulli zaman.

Walaupun demikian tidaklah semua unsur budaya lokal dengan sendirinya sesuai dengan ajaran Islam. Tentu saja ada yang bertentangan. Unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam inilah yang harus dihilangkan dan diganti. Dengan kata lain, kedatangan Islam selalu mengakibatkan adanya perombakan atau transformasi sosial menuju kearah yang lebih baik. Tetapi pada saat yang sama, kedatangan Islam tidaklah mesti memutuskan mata rantai suatu masyarakat dari masa lalunya, tetapi juga dapat ikut melestarikan apa saja baik dan benar dari masa lampau itu dan bisa dipertahankan dalam ujian universal al-Qur’an. Hal inilah yang terjadi pada proses panjang penyebaran Islam di seluruh dunia. Ketika ia hadir dan bergumul dengan masyarakat Persia lahirlah filsafat, ilmu kalam, tasawuf. Percepatan transformasi (sejalan dengan keruntuhan Majapahit) budaya feodalistik masyarakat jawa menjadi masyarakat egaliter Islam didorong oleh para penyebar Islam dengan menggunakan unsur-unsur lokal. Contoh paling menonjol adalah penggunaan wayang oleh sunan Kalijaga, upacara untuk orang-orang yang baru meninggal yang “diislamkan”[1] dan berbagai peristiwa budaya lainnya. Hal semacam ini juga terjadi mana-mana.

Singkatnya dengan menyadari dimensi universal ajaran Islam serta adanya kebebasan manusia untuk menyelesaikan persoalannya sendiri maka sangat boleh jadi aktualisasi Islam di Embau berbeda dengan aktulisasi saudaranya yang muslim di Jawa atau di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain[2].

Kesadaran inilah yang membuat para penyebar Islam di Embau untuk menggunakan sumber-sumber lokal dalam rangka proses Islamisasi. Salah satu media yang dipandang efektif untuk maksud ini adalah memanfaatkan magiyang sebelum Islam datang disebut Bamai. Setelah Islam datang istilah ini diganti dengan ilmu.

Sebelum Islam datang orientasi ilmu itu kepada sesuatu selain Allah yang mereka sebut antu anak atau kekuatan-kekuatan lain seperti gana yang ada di sungai, antu buta dipohon-pohon dan bukit-bukit. Hal ini menandakan bahwa yang masyarakat Embau sebelum menganut Islam adalah penganut animisme dan dinamisme selain ada pengaruh Hindu-Budha. Hal ini terlihat pada tawar berikut ini:

Tawar sampar kolera
Sang sulah si jimpa’ jimpung
Tanaman uma’ ditapa’ kaki
Antu tulah ngelangkah bumung rumah kami
Mutah darah ngelua’ ati

Tawar antu anak
Semati anak mati beranak
Mati ditingang tanah tamak
Totak buluh panjang panah
Pakai nyuman porut si mati anak

Tawar sampar kolera
Sang sulah sijimpa’ jimpung
Tanaman ladang ditelapak kaki
Hantu tulah melangkah bumbung rumah kami
Muntah darah mengeluarkan hati

Tawar antu anak
Semati anak mati beranak
Mati ditimpa tanah tamak
Totak buluh panjang panah
Untuk menombakperut si mati anak

Kenyataan di atas didukung pula oleh beberapa praktek yang menunjukkan kepercayaan serupa. Hal ini terlihat pada beberapa peristiwa lain seperti pembuatan Mmpalang Bonih, buang-buang, ancak dan seterusnya.

Selanjutnya mengenai pengaruh Hindu terjadi melalui hubungan dengan Jawa. Mungkin melalui kerajaan Majapahit, meskipun sulit memastikan kapan pengaruh tersebut terjadinya (King,1993:110). Selain itu pengaruh Hindu terlihat dalam sejumlah mantera yang menggunakan istilah-istilah seperti gan, buta dan betara.

Nilai-Nilai Islam Pada Ilmu

Pemanfaatan sumber-sumber lokal, berupa tradisi, oleh para penyiar agama Islam sesungguhnya tidaklah dimaksudkan untuk memperkokoh tradisi tersebut, terutama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam hal pemanfaatan Ilmu, seperti ditunjukkan di atas justru dijadikan sebagai sarana pengislaman penduduk. Pemakaian Ilmu tersebut lebih kepada mengalihkan paham masyarakat yang mempercayai adanya kekuatan magis pada Ilmu mrenjadi ‘hanya’ sekedar do’a. Selain itu penulis mendapatkan bahwa pemanfaatan Ilmu oleh para penyebar Islam tersebut menyampaikan ajaran dan nilai-nilai.

Menarik untuk diungkapkan di sini alasan para penyebar Islam memanfaatkan Ilmu sebagai sarana untuk menanamkan aqidah pada masyarakat Embau. Padahal sebagaimana diketahui bahwa magi oleh sementara kalangan muslim dianggap sebagai sesuatu yang tidak Islami. Di antara jawaban yang mungkin adalah pertama, sebagaimana teori yang diyakini banyak ahli bahwa keberhasilan penyebaran Islam di Asia Tenggara, termasuk di Embau, adalah berkat jasa para sufi. Esoterisme Islam ini secara relatif lebih akomodatif terhadap budaya lokal.

Kedua, ketika Islam datang ke Embau, Ilmu merupakan sesuatu sudah ada dan memainkan peranan yang sentral dalam masyarakat, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, maupun alam dan Tuhan. Peranan orang yang menguai Ilmu sangat penting sehingga dipercaya untuk mengatasi hampir semua persoalan yang bisa dihadapi oleh manisia.melihat ini para penyebar Islam mencoba mengambil perhatian masyarakat dengan cara yang sama. Hal yang mula-mula mereka lakukan adalah dengan mengganti nama semua jenis bacaan dan ritual dengan bahasa ‘Islam’ yakni Ilmu. Setelah itu mereka mengalihkan orientasi Ilmu kepada Allah. Sebelum para penyebar Islam memanfaatkan Ilmu sebagai media dakwah masyarakat sangat mempercayainya memiliki kekuatan magis. Namun para penyebar Islam ini mencoba menghilangkan kepercayainya memilki kekuatan magis. Namun para penyebar Islam ini mencoba menghilangkan kepercayaanakan adanya kekuatan magis pada Ilmu dengan upaya rasionalisasi berupa memformulasinya dengan kata-kata dan tindakan yang mendukungnya. Hal ini terlihat seperti muatan-muatan Ilmu yang penuh dengan pesan-pesan ajaran Islam. Berikut contoh-contohnya:

Syahadat

Ilmu sebagai sesuatu yang hidup pada masrakat Embau tidak dihapus dengan datangnya Islam.oleh mereka tradisi ini ‘diislamkan’. Hal ini terlihat dari isi Ilmu yang umumnya dimulai dengan mengucapkan kalimat basmalah[3] dan diakhiri dengan kalimat syahadat. Berikut beberapa contohnya:

ilmu na’ belawan
bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim
aku tau alif kula’ba
di bawah dilahku
dan aku tau asal jadi kula’ buntak namanya
Berokat do’a la ilaha illa Allah
Berokat Muhammad Rasulullah

 Ilmu tidak berlawan
Bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim
Aku alif engkau ba
Aku tau asal jadi empedu engkau
Di bawah lidahku
Dan aku tau asal jadi engkau belalang namanya
Berkat do’a la ilahi illa Allah
Berkat Muhammad Rasulullah

Selanjutnya setelah ‘diislamkan’ Ilmu juga dimanfaatkan oleh penyebar Islam untuk mengislamkan masyarakat setempat. Pada saat pengajaran Ilmu biasanya sang guru menyelipkan pesan-pesan seperti kewajiban menjalankan syari’at. Hal ini terlihat dari kebiasaanseorang guru mengajukan persyaratan kepada murid yang akan mewariskan Ilmu darinya untuk menjalankan syari’at dalam batas minimal seperti mengerjakan shalat dan puasa selain harus meningggalkan perbuatan yang tergolong dosa besar-seperti berjudi, minum-minumankeras, makan babi dan berzina.

Kepercayaan pada malaikat, contohnya:

Ilmu sahabat empat

Termunik lawik tutup tuban kawanku
Umar abubakar usman ali sahabatku
Israfil dimukaku
Izrail dibelakangku
Jibril didepanku
Muhammad pelindungku
Allah payungku
Kalimah la ilha ilaha illallah khalilullah meliputiku

Selain itu banyak pesan lain yang juga secara implisit disampaikan lewat teks Ilmu seperti, akhlak, tawakkal, kepercayaan akan kekuasaan Allah dan sebagainya. Karena keterbatasan tempat tidak mungkin di berikan contoh satu persatu.

Lewat dakwah semacam ini dalam waktu relatif singkat, wilayah pedalaman Kalimatan Barat umunya dan kawasan Embau khususnya dapat diislamkan seluruhnya.

Penutup

Akhir dari artikel ini perlu diutarakan beberapa catatan : (1) masuknya unsur-unsur Islam dalam magic sesungguhnya tidaklah dimasudkan untuk mengukuhkan tradisi yang ada tetapi dalam rangka proses Islamisasi yang membuat Islam diterima secara spektakuler oleh seluruh masyarakat Embau, hal ini tidak mengherankan karena seperti yang dikatakan Azyumardi Azra (1999) bahwa Islam dapat disebarkan secara luar biasa sampai ke pelosok karena jasa dari para guru sufi pengembara yang berpindah dari satu tempat ketempat lain untuk menyebarkan Islam. Berbeda dengan para pedangan atau dunia perdagangan pada umumnya yang berpusat di wilayah-wilayah pesisir yang terbuka dan kosmopolitan itu, guru-guru sufi pengembara ini merambah daerah-daerah pedalam yang tertutup, yang lebih dikuasai budaya agraris dan pandangan kosmopolit yang khas. Para guru sufi mempunyai pandangan dan weltanschaung yang inklusif, budaya agraris dan yang cukup khas, inklusivistik yang bahkan cenderung sinkritik.[4] Islam tidak lagi tampil dalam eklusivismenya yang ketat sebagai agama wahyu (revealed religion); tetapi sangat akomodatif terhadap sistem nilai dan kepercayaan lokal yang telah mapan. (2)Aktualisasi Islam yang beragam merupakan fakta historis sebagai proses sosial budaya, dimana Islam itu dibumikan. Dakwah kultural dengan memanfaatkan budaya lokal bukanlah membuat batas di antara ‘Islam murni’ dan ‘Islam sinkretik’ tetapi mempercepat perubahan itu melalui upaya pemberdayaan atau advokasi sosial-ekonomi dan pendidikan. Cara-cara dakwah yang cenderung merendahkan keagamaan seseorang, bisa mendorongnya makin menjauh dari identifikasi diri sebagai seorang muslim.

Daftar Pustaka

Abdul Munir Mulkhan.2002. Dakwah Kultural dalam Tradisi Keberagamaan di Indonesia, makalah pada sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar Bali 24-27 Januari.

Azyumardi Azra. 1999. Renaisans Islam di Asia Tenggara,Sejarah Wacana & Kekuasaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hermansyah, 2002. “Ilmu sebagai sarana Pengislaman masyarakat Ulu Kapuas: Sebuah Catatan Awal” dalam Khatulistiwa I, No. I September.

—————. 2002, Magi Ulu Kapuas: Kajian atas Ilmu masyarakat Melayu Embau. Tesis pada PPS IAIN Wali Songo Semarang.

—————. 2003, Unsur-unsur Tasawuf dalam Magi Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat, Pontianak: STAIN Pontianak.

King, Victor T. 1996. The Peoples of Borneo, Oxford: Blackwell.

Moh. Haitami Salim, dkk. 2000, Islam di Pedalaman Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN     Pontianak.

Nurcholish Madjid, 1992, Islam Doktrin dan Peradaban: sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan kemodernan, Jakarta: Paramadina.

Sutini Ibrahim. 1999. Senganan. Makalah pada Festifal Istiqlal. Di Pontianak.

Yusriadi dan Hermansyah. 2003. Orang Embau: Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan, Pontianak: STAIN Pontianak Press dan Yayasan ADIKARYA IKAPI dan The Ford Foundation.

Endnote:

[1] Tanda petik diberikan karena sampai sekarang dikalangan umat Islam masalagh tersebut masih bersifat polimes.

[2] Bandingkan dengan Nucholich Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan kemodernan, hal.542-556.

[3] Yakni ucapan bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim

[4] pada awalnya para penganut para penganut Islam sinkretik di wilayah pedalaman Kalimantan dikenal dengan nama senganan atau pengaki. Untuk pembahasan dua istilah sila rujuk Enthoven (1903), King (1993) juga Sutini Ibrahim (1995). Sebagai bahan bandingan lihat juga Haitami,dkk (2000), Yusriadi dan Hermansyah (2003).