post
Print Friendly, PDF & Email
Islam dari Pesisir sampai ke Pedalaman Kalimantan Barat

Download62
Stock
File Size1.75 MB
Create DateDecember 10, 2015
Download

PENGANTAR

Akhir-akhir ini, gairah penelitian ilmu-ilmu sosial di Kalimatan atau Borneo, pulau terbesar ketiga setelah Papua dan Green Land, menunjukkan peningkatan. Semula, orang belum menganggap penting keberadaan pulau ini di tengah-tengah gugusan kepulauan Nusantara. Karena sedikitnya publikasi ilmiah tentang pulau ini, sampai-sampai para ahli menggelarinya sebagai insula incognita atau terra incognita—pulau yang tak dikenal. Di tengah sepinya publikasi itu tiba-tiba dunia dikejutkan oleh beberapa kerusuhan sosial yang dahsyat. Berbagai analisis yang muncul tentang berbagai peristiwa itu. Umumnya, analisis itu berdasarkan data lama yang dihasilkan oleh petugas kolonial seratus, dua ratus tahun yang lalu. Tidak heran jika analisis tersebut sebagiannya tidak tepat bahkan tidak sedikit pula yang merupakan mitos. Menyadari keadaan itu,kedudukan pulau ini menjadi penting untuk menjadi pusat perhatian para peneliti. Pada tempo doeloe, Kalimantan dianggap bersinonim dengan Dayak non-Muslim. Orang Dayak dianggap eksotik. Bahkan, kadang-kadang disebut dengan istilah antropolgi yang tidak netral dan cenderung merendahkan, yaitu primitif. Dayak pun seolah-olah merupakan nama sebuah etnik. Kenyataannya, Dayak merupakan kumpulan beratus-ratus kelompok masyarakat yang memiliki budaya dan bahasa bahkan agama yang beragam. Sebagian publikasi yang ada cenderung tertarik untuk mengeksplotasi keeksotikan suku tersebut. Orang lain seperti pemeluk Islam (Melayu) dianggap sebagai pendatang dan hanya berada di pesisir. Memang, Islam adalah agama pendatang kemudian, sebagaimana juga Hindu, Budha, Kristen dan Khonghucu. Namun, dapat dipastikan bahwa sebagian besar pemeluknya adalah penduduk lokal yang pada masa lampau mengubah afiliasi etniknya menjadi Melayu. Kesimpulan yang menyimpang dan generalisasi yang keliru telah melahirkan kesadaran sejumlah ahli untuk membuat penelitian yang empirik dan terfokus. Maka, kemudian lahirlah sejumlah penelitian dan publikasi yang intensif mengenai Kalimantan. Jika kita membandingkan publikasi mengenai berbagai kelompok masyarakat di pulau ini, maka karya tentang masyarakat Muslim jauh lebih sedikit. Padahal setidaknya sejak abad ke-15 masyarakat di pulau ini sudah berinteraksi dengan agama Islam. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan salah satu jawaban terhadap kegelisahan minimnya publikasi mengenai masyarakat Islam di Kalimantan.